Minggu, 06 September 2009

Saat Ayah Meredakan Tangis Bayi


Ibu yang menenangkan bayi sedang menangis adalah wajar karena hampir semua bayi dekat dengan ibunya. Tapi terkadang sang ayah justru lebih jago dalam hal menenangkan bayi yang menangis. Apa rahasianya?
Biasanya para ayah memiliki tips dan trik khusus dalam hal mengatasi bayi yang menangis. Jadi meski sibuk di urusan kantor, ayah juga sebenarnya mampu mendiamkan tangisan anak. Tapi masalahnya banyak ayah yang tidak mau terlibat dengan masalah bayi menangis.
Sementara si bayi kadang takjub melihat cara ayah mendiamkan tangisannya. Ayah kadang lebih atraktif dari gayanya menggendong, mengangkat-angkat, mimik wajah hingga suaranya yang membuat si bayi sangat terkesan. Berikut adalah beberapa cara yang digunakan ayah untuk mengatasi tangisan sang bayi, seperti dikutip dari Babycenter, Jumat (4/9/2009):
Merasakan apa yang bayi rasakan. Seorang ayah biasanya tahu atau bisa menemukan darimana sumber sakit sang bayi. Mungkin hal ini terdengar tidak masuk akal, tapi kadang akal sehat ditinggalkan untuk mengatasi sesuatu.
Menggendong dan mengayun-ayunkan. Bayi sangat suka sekali dengan gerakan-gerakan dan seorang ayah paling jago dalam hal membuat mengayun-ayunkan. Pada saat tersebut bayi akan merasa tenang dan tahu bahwa ada sang ayah yang akan melindunginya.
Menghindari meletakkan di tempat tidur. Caranya dengan meletakkan bayi di bahu dan melingkarkan tangan mungilnya di leher sang ayah. Kemudian ayah akan bergerak perlahan-lahan ke depan, belakang dan kadang berputar-putar pelan. Saat seperti itu bayi akan merasa seperti terbang, namun tidak akan merasa takut karena ada sang ayah yang menggenggam dengan bayi dengan aman.
Mengeluarkan suara dan membuat wajah lucu. Ayah pandai sekali mengubah-ubah mimik wajahnya sambil mengeluarkan suara yang lucu, sehingga akan mengubah tangisan bayi menjadi suara cekikikan yang menggemaskan. Trik ini bisa dengan cara meletakkan sesuatu di atas kepala dan menjatuhkannya sambil berkata, “Oh tidak, mereka jatuh lagi,” dengan mimik wajah yang lucu.
Menggendong dan bernyanyi. Cara ini mungkin lebih mudah dibandingkan dengan cara lainnya. Ayah bisa menggendong sang bayi sambil menyanyikan lagu-lagu yang menenangkan seperti nina bobo atau lagu anak-anak lainnya.
Meletakkan bayi di tubuh sang ayah. Taruh sang bayi di atas tubuh ayahnya, maka bayi akan merasa tenang dan damai. Bayi akan merasakan detak jantung, merasakan hembusan napas sang ayah dan bisa sesekali digoyang-goyangkan. Cara ini juga efektif untuk menidurkan bayi.
Untuk itu jangan anggap remeh peran seorang ayah, karena dalam hal tertentu ayah mungkin bisa melakukan sesuatu lebih baik dari siapapun. Dan ayah pastinya memiliki cara tersendiri untuk menenangkan tangisan sang anak. (Vera Farah Bararah-detikHealth)

Perlukah Memukul Pantat Anak?


Mengurus anak memang bukan pekerjaan gampang. Emosi orangtua seperti dikocok-kocok jika si anak mulai tidak disiplin, bermain hal-hal bahaya atau mengeluarkan kata-kata kotor.
Banyak orangtua memilih hukuman pukulan pantat untuk membuat anak jera karena menganggap pantat bagian paling tidak berbahaya? Tapi masih perlukah hukuman pantat? Apa benar hukuman pukulan pantat cukup efektif?
Banyak orangtua berpikir ketimbang memukul atau mencubit, hukuman pantat lebih aman karena pantat lebih empuk dan kalaupun dipukul hanya akan terasa sakit sebentar.
Tapi jangan salah, hukuman fisik apapun itu, pukulan pantat, sentil kuping atau mencubit tetap saja mengenai saraf otot atau saraf kulit. Apalagi sampai mencubit telinga disana ada sensor keseimbangan tubuh.
Psikolog dan pendidik anak, Foster W Cline MD dan Jim Fay dalam bukunya Parenting with Love and Logic: Teaching Children Responsibility seperti dikutip Minggu (6/9/2009) melihat hukuman pantat yang selama ini dianggap sebagai hukuman fisik paling ringan sangat tidak efektif diberikan.
Ketika orangtua kaget bercampur takut melihat anaknya bermain pisau atau colokan listrik, saking cemasnya orangtua biasanya langsung bereaksi cepat. “Mama bilang jangan main pisau, kamu bandel ya”, sambil memukul pantat anak.
Si anak biasanya akan langsung diam. Yang ada di pikiran anak setelah pantatnya dipukul masalah selesai. Jadi jika dia bermain pisau lagi paling akan dipukul pantatnya setelah itu tidak ada lagi masalah.
Pukulan pantat memang lebih mudah karena anak kecil diberi rasa sakit sebentar kemudian dilepaskan dari kesalahannya. Foster dan Jim menilai hukuman pukulan pantat atau fisik lainnya tidak mengajarkan anak menjalani hidup dengan konsekuensi atas perbuatannya. Padahal anak cukup cerdas menyadari hukuman pukulan pantat adalah cara melepaskan diri dari kesalahan. Sebaiknya anak harus lebih dulu memikirkan masalah yang mereka perbuat.
Orangtua juga memberi tahu batasan apa yang boleh dilakukan dan menunjukkan pada anak tindakannya akan sangat merugikan dengan kalimat yang mengajak anak berpikir seperti “Coba kamu pikir kalau kamu terkena pisau kamu akan terluka, kamu akan sakit dan kamu tidak akan bisa bermain dengan temanmu”.
Anak juga biasanya cukup takut dengan hanya melihat raut muka orangtua yang serius atau membelalakkan matanya. Sebisa mungkin hindari anak dari hukuman fisik agar tidak meninggalkan trauma ketika ia dewasa.
Ada beberapa alasan kenapa sebaiknya orangtua menghindari pukulan pantat atau hukuman fisik lainnya:
Mengajarkan konsekuensi yang logis jauh lebih kuat pengaruh yang tertanam pada pikiran anak ketimbang memukul pantat sehingga anak akan menyadari perbuatan tersebut salah karena ada risikonya.
Pukulan di pantat terbukti gagal mengajarkan perilaku yang diinginkan orangtua. Anak malah berupaya coba-coba lagi mengulangi kesalahannya.
Kebanyakan anak lebih suka menerima pukulan di pantat ketimbang memikirkan tindakan mereka yang keliru.
Riset juga menunjukkan pukulan pantat mempunyai banyak efek samping negatif, seperti kemarahan, kebencian, balas dendam. (Irna Gustia-detikHealth)

Rabu, 02 September 2009

Ponsel Terbukti Picu Tumor Otak


Isu bahaya ponsel bagi otak memang pernah ramai dibicarakan, namun belum ada studi yang membuktikannya kala itu. Kini, para peneliti di Inggris dan Amerika membenarkan hal tersebut. Handphone adalah satu dari penyebab tumor otak.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam beberapa jurnal di Amerika dan Inggris tersebut, diungkapkan bahaya telepon genggam memang terbukti berbahaya untuk otak, terutama anak-anak.
Sebanyak 13 negara telah mendapatkan laporan studi tersebut. Studi yang dipelopori dan didanai oleh Telecom itu sudah berjalan selama bertahun-tahun sejak dimulainya tahun 1999. Tujuannya adalah untuk membuktikan adakah pengaruhnya antara ponsel dan tumor otak.
Dalam laporan Powerwatch and the Radiation Research Trust di Inggris dan EMR Policy Institute di Amerika itu, para peneliti mengatakan bahwa gelombang radiasi yang terpancar dari ponsel memang jadi faktor pemicu tumor otak, terutama anak-anak dan orang dewasa yang rentan terkena penyakit.
“Penelitian tentang pengaruh radiasi ponsel terhadap kesehatan manusia adalah studi terlama dan terbesar yang pernah saya jalani yang melibatkan 4 miliar partisipan,” ujar Lloyd Morgan, pimpinan studi yang juga anggota Bioelectromagnetics Society, seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (2/9/2009).
Lamanya studi itu dikarenakan tumor tidak tumbuh dalam waktu singkat, butuh waktu bertahun-tahun hingga seseorang terbukti memiliki tumor.
Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa telepon genggam memang faktor penyebab tumor otak. “Masyarakat dan publik harus tahu hal ini. Bahkan, tidak hanya tumor otak, kanker mata, kelenjar ludah, kanker testis dan leukimia pun menjadi ancaman selanjutnya dari ponsel,” ujar Morgan.
Para ilmuwan dari berbagai universitas dan institusi kesehatan yang berkumpul dalam seminar “Cellphones and Brain Tumors: 15 Reasons for Concern” pun akhirnya setuju bahwa ponsel memang terbukti memicu tumor otak dan sebaiknya seseorang mengurangi intensitas yang berhubungan dengan ponsel, tidak berlama-lama menelepon, dan menjauhkannya ketika sedang tidur.
Namun, saat ini, saat jaman serba teknologi dan cepat, ponsel sudah menjadi barang wajib yang harus dimiliki setiap orang, bahkan anak-anak sekalipun. Mungkinkah menjauhkan ponsel dari kehidupan sehari-hari? (Nurul Ulfah/detikHealth)

Perlukah Anak Diberi Uang Saku?


Orang tua terkadang bingung apakah anaknya perlu diberi uang saku atau tidak? Karena banyak anak yang menggunakan uang saku tersebut untuk membeli makanan yang tidak bergizi atau hal yang tidak berguna. Sebaiknya orang tua membedakan antara uang saku dengan uang jajan.
Pengertian uang saku untuk anak-anak berbeda dengan uang jajan. Uang saku adalah uang yang diberikan oleh orang tua dengan perencanaan uang tersebut digunakan seperti untuk transportasi atau tabungan anak. Uang jajan adalah uang yang diberikan kepada anak untuk membeli jajanan berupa makanan dan minuman selama berada di luar rumah.
“Untuk situasi sekarang di mana iklan banyak beredar dan perkembangan makanan yang beragam, penting untuk memberikan anak uang saku tapi dengan jumlah yang disesuaikan untuk kebutuhan anak,” ujar Elly Risma Musa, Psi dari Brawijaya Women and Children Hospital saat dihubungi detikHealth, Rabu (2/9/2009).
Penting untuk memperhatikan jumlah uang saku anak-anak, karena sebagian besar jajanan yang dijual bebas di sekitar sekolah adalah makanan dan minuman yang tidak layak untuk dikonsumsi. Jajanan tersebut biasanya mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan anak nantinya.
Elly menambahkan bagaimana cara anak mengatur uang sakunya akan berdampak terhadap gaya hidup anak nantinya. Jika anak sudah dibiasakan untuk menabung sejak kecil, maka kebiasaan tersebut akan terus terbawa hingga dirinya dewasa. Yang terpenting adalah memberikan pengertian kepada anak mengenai kegunaan dari uang saku ini dan berikan fasilitas bagi anak untuk menabung yaitu dengan menyediakan kotak tabungan.
Orang tua tidak perlu setiap hari mengecek apakah anaknya sudah menabung atau belum, kalau anak sudah diberi pengertian kegunaan dari menabung untuk apa maka anak akan dengan sendirinya menabung.
Elly memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua dalam memberikan uang saku kepada anaknya:
Lihat jajanan apa yang diinginkan oleh sang anak sehingga bisa tahu berapa kebutuhan sang anak.
Lihat juga transportasi apa yang digunakan oleh anak untuk pergi dan pulang sekolah.
Jika anak sudah makan makanan yang mengenyangkan dan membawa bekal, maka beri pengertian kepada anak untuk menabung.
Beri tahu anak bagaimana caranya mengatur uang sakunya.
Beritahu anak makanan dan minuman apa saja yang boleh dikonsumsi dan yang tidak layak untuk dikonsumsi, serta ajarkan anak untuk selalu membaca kandungan dari jajanan tersebut.
“Kuncinya adalah jangan pernah membicarakan masalah keuangan di atas meja makan jika anaknya berusia di bawah 6 tahun. Karena akan mempengaruhi gaya hidup keuangan sang anak,” ujar psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. (detikHealth)

Enam Tanda Cinta Anak pada Ibunya


Banyak cara yang bisa dilakukan orang untuk menunjukkan rasa cintanya termasuk anak-anak. Anak-anak bisa melakukan apa saja sebagai bukti rasa cintanya terhadap sang ibu. Mau tahu apa saja tanda anak mencintai ibunya?
Tidak ada satupun di dunia ini seorang anak yang tidak mencintai ibunya, karena begitu besar perjuangan sang ibu dari sebelum melahirkan hingga melahirkan sang anak. Ada anak yang mengungkapkan langsung perasaan cintanya terhadap ibu, tapi ada juga yang mengatakannya lewat berbagai macam perbuatan.
Kadang ibu tidak tahu bahwa perbuatan tersebut adalah bukti cinta sang anak terhadap ibunya. Ini dia beberapa tanda cinta sang anak terhadap ibunya, seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (2/9/2009):
Bayi yang baru lahir menatap mata ibunya, sang bayi berusaha keras untuk mengingat wajah ibunya. Bayi yang baru lahir tidak mengerti mengenai hal yang lain di dunia ini, tapi bayi tahu bahwa ibunya adalah seorang yang penting untuknya.
Bayi memikirkan sang ibu saat tidak ada di sampingnya. Bayi yang berusia 8 sampai 12 bulan mulai menunjukkan ekspresi wajahnya, saat ibunya tidak ada di dekatnya bayi akan mencari-cari dan tersenyum kembali saat melihat ibunya.
Anak yang baru bisa berjalan, akan berlari ke arah ibunya saat jatuh atau merasa sedih. Anak kecil ini mungkin tidak terlalu mengerti dengan kata-kata “Aku cinta kamu” tapi apa yang dilakukannya bisa mengartikan lebih dari kata-kata tersebut.
Anak memberikan bunga yang baru dipetiknya, gambar hati dari tulisan tangannya sendiri atau memberikan sesuatu yang lain sebagai tanda bahwa anak menyayangi ibunya melalui suatu pemberian.
Anak meminta izin kepada ibunya setiap melakukan sesuatu. Perlakuan ini menunjukkan bahwa anak akan menuruti apa yang dikatakan sang ibu dan mulai bisa diajak kerja sama.
Anak menceritakan mengenai rahasianya kepada sang ibu, seperti hal memalukan yang dilakukannya. Ini menunjukkan bahwa anak percaya pada ibunya dan tidak malu untuk menceritakan apapun yang terjadi pada dirinya serta tidak malu untuk berpelukan dengan sang ibu di muka umum.
Jika anak Anda melakukan salah satu hal tersebut di atas, berarti itu bukti bahwa sang anak mencintai ibunya. Anak-anak mungkin belum mengerti apa artinya cinta dan sayang, tapi anak tahu bagaimana menunjukkan tanda bahwa sang ibu sangat berarti baginya. (Vera Farah Bararah/detikHealth)

Minggu, 30 Agustus 2009

New Vario Motorcycle



Pekan pertama Ramadan 1430 Hijriyah, kakek membeli sepeda motor baru merek Vario. Nyicil di dealer. Warga dasar hitam dipilih, walau sebenarnya niatnya warna merah. Tak apalah, toh fungsinya sama. Motor itu dipakai Tante Fitriah kalau mengajar dan berbagai keperluan lainnya. Belajar motor jenis baru itu heboh juga. Soalnya bentuknya mirip Vespa, giginya tak ada sehingga mesti lincah memainkan gas. Nah, Tante Fitriah masih awam soal itu sehingga belajar dari nol. Tanao mpungga poda. Pantas saja punggungnya kaku, seperti tiang listrik di halaman rumah kakek n nenek di kampung Sigi. Kadang terjatuh, terutama saat tikungan dan tanjakan. Untungnya, tak berbekas parah di tubuhnya. Atau jangan-jangan Tante suka mikiran doi ya...(he..he..)
Sekarang perkembangan belajar nyetirnya sudah ada kemajuan. Dalam jarak puluhan meter jarang menurunkan kaki. Tapi, kata Bapak saat lewat gang samping eks bioskop Sape, kalau papasan dengan benhur Tante Fitriah berhenti dulu menunggu lewat. Kalau benhurnya dua sih ngak apa-apa, kalau sepuluh wah lama dong. Aku jadi mengerti jika Bapak pernah bilang kalau skor belajarnya baru pada angka 5,5.
Oh ya, karena agak luas bagian leher "kuda Jepang" itu kujadikan areal mainan. Bahkan, lokasi strategis untuk makan sambil disuapi ibu. Lokasi itu pula yang seringkali rebutan ama Aulia, sepupuku. "Perang dingin" pun terjadi. Karena itu aku ogah turun kalau udah naik. Saat kesempatan lain, Om Firman n Om Adnan suka ngajak jalan-jalan putar gang kampung. Senang juga sih, terutama sore hari. Itung-itung JJS, Jalan-Jalan Sore. Udah ya, perkembangan belajar Tante Fitriah ntar kulaporin lagi. Trims daa..daa..da..

Memaknai Kemerdekaan


SUDAHKAH kita merdeka dalam arti kata yang sesungguhnya? Sebagian masyarakat Indonesia (dan Bima) seringkali lantang menyatakan belum. Lontaran itu bisa dibaca dalam berbagai pendapat dan pemberitaan media massa. Alasannya antara lain karena membandingkan, berbagai ketinggalan dibandingkan dengan daerah atau wilayah lainnya. Misalnya, beraspal mulus, sudah dimasuki jaringan listrik, dan fasilitas lainnya.
Secara riil, Indonesia sudah membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan memroklamirkan diri pada 17 Agustus 1945 setelah melewati perjuangan panjang dan melelahkan. Perjuangan itu kini sudah berjarak 64 tahun. Saatnya, makna kemerdekaan itu digugat bersama. Terus-menerus direnungkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan yang diraih dengan air mata dan darah itu mesti dielaborasi oleh generasi hari ini, menjadikannya titik tolak baru untuk memantapkan tekad dan semangat membangun bangsa yang beradab.
Selain itu, kemerdekaan itu harus mampu menjadi ruh baru bagi upaya memerangi tindakan dan perilaku menyimpang. Mereka yang merugikan negara atau berperilaku menyimpang adalah pengkhianat kemerdekaan. Pengkhianat para pahlawan. Kemerdekaan ini, sejatinya harus dijabarkan dalam tekad bersama menghapus ketidakadilan, korupsi, dan penyimpangan lainnya.
Bagi para penguasa, keteladanan sikap dan perilaku serta kegigihan memerjuangkan kesejahteraan rakyat adalah sebagian dari cara memaknai kemerdekaan. Rakyat menanti idealitas sikap seperti itu. Keteladanan itu (terus) ditunjukkan di depan rakyat--untuk sebagian tujuan--agar mereka percaya bahwa para pemimpin mereka sesungguhnya sedang dalam jalur yang memihak kepentingan rakyat. Bukan sebaliknya, dalam posisi mengangkangi hak-hak mereka.
Mari kita jadikan momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Kemerdekaan RI sebagai titik berangkat baru memotivasi menggelorakan semangat membangun. Kemerdekaan itu adalah jalan baru yang memerdekakan rakyat dalam berbagai dimensi kehidupan. Bebas dari rasa takut, bebas dari kemiskinan, bebas dari ketidakadilan, dan bebas dari pemasungan hak-hak mendasar yang seharusnya dimiliki rakyat.
Kita impikan, Indonesia hari ini seperti dalam sketsa awal para ‘founding father’ yakni negeri yang maju dan sejahtera. Negeri yang kaya potensi ini menanti sentuhan yang lebih berarti. Ya, dari kita semua. Agar kemerdekaan itu bermakna! Semoga. (*)