Rabu, 02 September 2009

Enam Tanda Cinta Anak pada Ibunya


Banyak cara yang bisa dilakukan orang untuk menunjukkan rasa cintanya termasuk anak-anak. Anak-anak bisa melakukan apa saja sebagai bukti rasa cintanya terhadap sang ibu. Mau tahu apa saja tanda anak mencintai ibunya?
Tidak ada satupun di dunia ini seorang anak yang tidak mencintai ibunya, karena begitu besar perjuangan sang ibu dari sebelum melahirkan hingga melahirkan sang anak. Ada anak yang mengungkapkan langsung perasaan cintanya terhadap ibu, tapi ada juga yang mengatakannya lewat berbagai macam perbuatan.
Kadang ibu tidak tahu bahwa perbuatan tersebut adalah bukti cinta sang anak terhadap ibunya. Ini dia beberapa tanda cinta sang anak terhadap ibunya, seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (2/9/2009):
Bayi yang baru lahir menatap mata ibunya, sang bayi berusaha keras untuk mengingat wajah ibunya. Bayi yang baru lahir tidak mengerti mengenai hal yang lain di dunia ini, tapi bayi tahu bahwa ibunya adalah seorang yang penting untuknya.
Bayi memikirkan sang ibu saat tidak ada di sampingnya. Bayi yang berusia 8 sampai 12 bulan mulai menunjukkan ekspresi wajahnya, saat ibunya tidak ada di dekatnya bayi akan mencari-cari dan tersenyum kembali saat melihat ibunya.
Anak yang baru bisa berjalan, akan berlari ke arah ibunya saat jatuh atau merasa sedih. Anak kecil ini mungkin tidak terlalu mengerti dengan kata-kata “Aku cinta kamu” tapi apa yang dilakukannya bisa mengartikan lebih dari kata-kata tersebut.
Anak memberikan bunga yang baru dipetiknya, gambar hati dari tulisan tangannya sendiri atau memberikan sesuatu yang lain sebagai tanda bahwa anak menyayangi ibunya melalui suatu pemberian.
Anak meminta izin kepada ibunya setiap melakukan sesuatu. Perlakuan ini menunjukkan bahwa anak akan menuruti apa yang dikatakan sang ibu dan mulai bisa diajak kerja sama.
Anak menceritakan mengenai rahasianya kepada sang ibu, seperti hal memalukan yang dilakukannya. Ini menunjukkan bahwa anak percaya pada ibunya dan tidak malu untuk menceritakan apapun yang terjadi pada dirinya serta tidak malu untuk berpelukan dengan sang ibu di muka umum.
Jika anak Anda melakukan salah satu hal tersebut di atas, berarti itu bukti bahwa sang anak mencintai ibunya. Anak-anak mungkin belum mengerti apa artinya cinta dan sayang, tapi anak tahu bagaimana menunjukkan tanda bahwa sang ibu sangat berarti baginya. (Vera Farah Bararah/detikHealth)

Minggu, 30 Agustus 2009

New Vario Motorcycle



Pekan pertama Ramadan 1430 Hijriyah, kakek membeli sepeda motor baru merek Vario. Nyicil di dealer. Warga dasar hitam dipilih, walau sebenarnya niatnya warna merah. Tak apalah, toh fungsinya sama. Motor itu dipakai Tante Fitriah kalau mengajar dan berbagai keperluan lainnya. Belajar motor jenis baru itu heboh juga. Soalnya bentuknya mirip Vespa, giginya tak ada sehingga mesti lincah memainkan gas. Nah, Tante Fitriah masih awam soal itu sehingga belajar dari nol. Tanao mpungga poda. Pantas saja punggungnya kaku, seperti tiang listrik di halaman rumah kakek n nenek di kampung Sigi. Kadang terjatuh, terutama saat tikungan dan tanjakan. Untungnya, tak berbekas parah di tubuhnya. Atau jangan-jangan Tante suka mikiran doi ya...(he..he..)
Sekarang perkembangan belajar nyetirnya sudah ada kemajuan. Dalam jarak puluhan meter jarang menurunkan kaki. Tapi, kata Bapak saat lewat gang samping eks bioskop Sape, kalau papasan dengan benhur Tante Fitriah berhenti dulu menunggu lewat. Kalau benhurnya dua sih ngak apa-apa, kalau sepuluh wah lama dong. Aku jadi mengerti jika Bapak pernah bilang kalau skor belajarnya baru pada angka 5,5.
Oh ya, karena agak luas bagian leher "kuda Jepang" itu kujadikan areal mainan. Bahkan, lokasi strategis untuk makan sambil disuapi ibu. Lokasi itu pula yang seringkali rebutan ama Aulia, sepupuku. "Perang dingin" pun terjadi. Karena itu aku ogah turun kalau udah naik. Saat kesempatan lain, Om Firman n Om Adnan suka ngajak jalan-jalan putar gang kampung. Senang juga sih, terutama sore hari. Itung-itung JJS, Jalan-Jalan Sore. Udah ya, perkembangan belajar Tante Fitriah ntar kulaporin lagi. Trims daa..daa..da..

Memaknai Kemerdekaan


SUDAHKAH kita merdeka dalam arti kata yang sesungguhnya? Sebagian masyarakat Indonesia (dan Bima) seringkali lantang menyatakan belum. Lontaran itu bisa dibaca dalam berbagai pendapat dan pemberitaan media massa. Alasannya antara lain karena membandingkan, berbagai ketinggalan dibandingkan dengan daerah atau wilayah lainnya. Misalnya, beraspal mulus, sudah dimasuki jaringan listrik, dan fasilitas lainnya.
Secara riil, Indonesia sudah membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan memroklamirkan diri pada 17 Agustus 1945 setelah melewati perjuangan panjang dan melelahkan. Perjuangan itu kini sudah berjarak 64 tahun. Saatnya, makna kemerdekaan itu digugat bersama. Terus-menerus direnungkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan yang diraih dengan air mata dan darah itu mesti dielaborasi oleh generasi hari ini, menjadikannya titik tolak baru untuk memantapkan tekad dan semangat membangun bangsa yang beradab.
Selain itu, kemerdekaan itu harus mampu menjadi ruh baru bagi upaya memerangi tindakan dan perilaku menyimpang. Mereka yang merugikan negara atau berperilaku menyimpang adalah pengkhianat kemerdekaan. Pengkhianat para pahlawan. Kemerdekaan ini, sejatinya harus dijabarkan dalam tekad bersama menghapus ketidakadilan, korupsi, dan penyimpangan lainnya.
Bagi para penguasa, keteladanan sikap dan perilaku serta kegigihan memerjuangkan kesejahteraan rakyat adalah sebagian dari cara memaknai kemerdekaan. Rakyat menanti idealitas sikap seperti itu. Keteladanan itu (terus) ditunjukkan di depan rakyat--untuk sebagian tujuan--agar mereka percaya bahwa para pemimpin mereka sesungguhnya sedang dalam jalur yang memihak kepentingan rakyat. Bukan sebaliknya, dalam posisi mengangkangi hak-hak mereka.
Mari kita jadikan momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Kemerdekaan RI sebagai titik berangkat baru memotivasi menggelorakan semangat membangun. Kemerdekaan itu adalah jalan baru yang memerdekakan rakyat dalam berbagai dimensi kehidupan. Bebas dari rasa takut, bebas dari kemiskinan, bebas dari ketidakadilan, dan bebas dari pemasungan hak-hak mendasar yang seharusnya dimiliki rakyat.
Kita impikan, Indonesia hari ini seperti dalam sketsa awal para ‘founding father’ yakni negeri yang maju dan sejahtera. Negeri yang kaya potensi ini menanti sentuhan yang lebih berarti. Ya, dari kita semua. Agar kemerdekaan itu bermakna! Semoga. (*)

Minggu, 26 Juli 2009

Pengantin Baru


Sabtu malam, tante Ida (Nurkhalida) mengakhiri masa lajang dengan pujaan hatinya, Imran. Prosesi akad berlangsung khidmat, meski beberapa kali pengulangan lafad akad. Kata orang-orang, biasa-lah dalam momentum seperti itu. Grogi nih ye... Prosesi resepsi digelar meriah di Paruga Nae, Sape.
Sesuai tuntunan Rasulullah, Abim ucapkan “Barakalllahu laka wabaraka alaika, wa jama’a bainakuma fii khairin. Semoga pernikahan ini membawa berkah, dan Allah menyatukan kalian dalam kebaikan”. Kata Bapak, pernikahan seharusnya dalam jalinan ikatan yang kuat (mizhagan ghaliza) dalam semangat beribadah.
Abim harapkan mendayuh biduk rumah tangga dengan baik, kalau ada perbedaan diselesaikan dengan arif. Ingat tekad, janji, dan komitmen saat pacaran yang dilalui dengan penuh tantangan. Akhirnya, semoga bahagia ya, Om dan Tante.
Mau tahu nih, bulan madunya (honey moon) di mana ya...Oh ya, cepatan punya momongan dong. Agar Abim punya banyak teman bermain bola nih... (*)

Lionel 'Bima Junior' Messi



Aku senang banget, sekarang punya dua kostum klub Barcelona asal Catalan, Spanyol. Satu warna kuning dengan nomor punggung 19 atas nama Messi, dibelikan Om Firdaus di Surabaya. Nomor 10 masih dimiliki Ronaldinho saat itu. Satu seragam lagi khusus diburu Bapak di Mataram saat seleksi main futsal, dua bulan lalu. Baju kebesaran biru-merah khas El Barca. Mau tahu harganya? Hanya Rp13.500 di lantai 2 Boxi Mataram.
Bapak emang fans berat, ada siaran langsung (live) pasti nonton sampai pagi, khususnya melihat aksi brilian Lionel Messi (10). Pilihan Bapak tak salah, El Barca meraih treble tahun 2009. Menyabet juara liga Spanyol, juara Copa Del Rey, dan ini yang lebih fantastis, juara liga Champions dengan “mencukur” Manchester United (MU) 2-0. Moga kehadiran Om Zlatan Ibrahimovic, Keirsion, dan Maxwell skuad Barca kian tangguh musim ini. (*)

Rabu, 22 Juli 2009

Luka Mbojo


OM dan Tante, akhir-akhir ini Mbojo kian bermunculan banyak peristiwa. Mulai dari penemuan mayat seorang pria di pegunungan Lampe yang hingga kini belum jelas identitasnya. Dia Mr X, demikian media setempat menyebutnya. Selain itu, aksi memblokir jalan negara oleh ratusan massa di Kecamatan Bolo dan melukai sejumlah warga setempat, hingga pemotongan”burung” kakek di Kecamatan Lambitu. Ini makin menambah deretan kasus kekerasan di wilayah Mbojo.
Terakhir, terungkapnya kasus aborsi (pengguguran kandungan) oleh seorang pelajar SMA kelas 3 di Kecamatan Wawo, daerah dataran tinggi. Bayi lima bulan yang sebenarnya bisa menjadi teman mainku itu diakui oleh pelajar itu hasil hubungan gelap alias haram dengan mahasiswa sebuah sekolah tinggi di Bima. Duh teganya!
Rangkaian kasus ini, jika terakumulasi dan menunjukkan trend meningkat, bisa merusak memori generasi baru. Pikiran kolektif kami dijejali citra negatif dengan level kekerasan (kebiadaban) yang melangit. Semoga alur perjalanan daerahku baik-baik saja, penuh raihan prestasi dan bebas korupsi. (*)

Jalan Baru


Aku senang sekali, Om. Sejak seminggu lalu jalan depan rumah kakek n nenek sudah diaspal. Syukurlah, berarti ada kemajuan dong. Kalau dulu susah, naik motor Bapak selalu berguncang. Untung masih dipegang Ibu. Semoga proyek ini awet dan sesuai besteknya. Soalnya, seringkali proyek di daerahku hanya dikerjakan asal-asalan. Asal jadi, asal untung, asal banyak duit masuk kantung kontraktor. Jika begini, aku belum besar jalanan udah rusak lagi dong. Kalau ke rumah kakek bisa jatuh dan berdarah lututku...Oh ya, setelah jalan itu diaspal, ada lagi yang berubah. Mobil, bus, dan truk berbadan besar lewat. Itu merepotkan kakek n nenek akan keselamatanku.